Itulah yang terjadi, bila banyak orang membeli produk
Bale Bale milik Linda. Bisnis bantal,guling dan selimut ini beromset
minimal Rp 300 juta/bulan. Untuk memberi kesempatan masyarakat ikut
menikmati empuknya bisnis ini tersedia penawaran jadi reseller atau
agen.
Teks & Foto : Teguh
Beberapa produk unggulan Bale-Bale Pangsa
pasar produk ini amat luas. Siapapun orangnya pasti membutuhkan sprei,
bantal, guling dan selimut. Peluang inilah yang ditangkap Linda,
pengusaha aneka perlengkapan tidur dari Jakarta Timur. Senjata yang
digunakan untuk menggeluti usaha ini, tak lain kreativitas dan inovasi.
Dari tangannya muncul bantal sekaligus selimut (
balmut), guling yang selimut (
gulmut) serta bamut
thrree in one. Yakni bantal yang bisa digunakan sebagai selimut, sekaligus
sleeping bag atau kantung tidur.
Mulai dari sprei berkaret Linda
menekuni usaha ini sejak 27 April 2005. Sebelumnya saat masih jadi
karyawan di sebuah bank swasta, ia sudah mencoba-coba membuat selimut
modifikasi. Salah satu desain perdananya berupa sprei yang dilengkapi
dengan karet mengelilingi pinggirnya. Mengapa? Karena menurut
pengamatannya sprei yang dijual selama ini hanya diberi karet di tiap
sudut saja. Jadi kurang kuat dan mudah lepas. Dari hasil eksplorasi
atas bermacam perlengkapan tidur akhirnya dibuatlah ketika macam
produk di atas. Terbukti, bamut, gulmut dan produk terbarunya yaitu
bamut
three in one banyak diminati konsumen.
Melihat
tanggapan pasar yang bagus, akhirnya Linda berkonsentrasi pada usaha
perlengkapantidur ini dan meninggalkan statusnya sebagai karyawan.
Langkah awalnya, Linda mendirikan sebuah outlet sprei di Jakarta
Timur. “Belum ada kan outlet khusus sprei. Bermula dari outlet
tersebut akhirnya produk kami bisa merambah ke seluruh Indonesia,” tutur
Tutik manajer Bale Bale. Pemasarannya dimulai dari teman, saudara,
bekerjasama dengan media massa. Upaya
branding tersebut berhasil. Banyak konsumen yang berdatangan ke outlet.
Reseller, agen, dan frachiseUntuk
memperluas jaringan serta cakupan pemasaran, Linda memulai dengan
metode kemitraan. Setiap orang yang tertarik ikut menjual disarankan
memulai sebagai
reseller. Minimal pembelian 3 buah produk. Calon
reseller tersebut
diberi kemudahan bisa meretur barang yang mereka beli bila merasa
kesulitan menjual. “Syaratnya kondisi produk yang dikembalikan masih
dalam keadaan baik. Mereka bisa memilih, meminta uang kembali atau
ditukar dengan produk lain,” imbuh Tutik. Retur dapat dilakukan dengan
jangka waktu 3 bulan setelah pembelian.
Setelah 1 tahun berjalan, ternyata peminat sebagai
reseller
semakin tinggi. Bale Bale kemudian menawarkan model kemitraan yang
lain yaitu sebagai agen dan pada tahun 2006, model usaha waralaba mulai
ditawarkan.
Franchisee yang pertama kali bergabung yaitu
perwakilan Bale Bale yang berlokasi di Tambun, Bekasi dan disusul
franchisee di Depok, Jawa Barat. Saat ini Bale Bale memiliki 14
franchisee tersebar di Jabodetabek, Yogyakarta, Lampung, Lombok, Bukittinggi, Malang, Pakanbaru , Banjarmasin, dan Palembang.
Meskipun demikian, pemasaran dengan sistim waralaba ini tidak membuat Linda menjadi terlalu bernafsu. Setiap kota cukup satu
franchisee. Namun sang
franchisee diberi hak merekrut agen-agen apau
reseller
sebanyak-banyaknya di kota masing-masing. Dengan cara seperti ini,
Bale Bale dapat menghindari terjadinya perbenturan dan perebutan daerah
antara
franchisee. Selain itu, menurut Tutik, cara pemasaran seperti ini lebih cocok untuk memasarkan produk secara masal.
Melalui
cara pemasaran waralaba seperti ini Bale Bale berhasil mendapat omzet
sebesar Rp 300 - 500 juta / bulan. Setiap bulan Bale Bale menghasilkan
sekitar 7000 unit. Untuk mengelola usaha sebsar itu dibantu oleh
karyawan sebanyak 30 orang.
Tutorial Cara Memulai Proses Pendaftaran MMM Indonesia,